Khutbah Rasullah Menjelang Ramadhan

19.28.00

Dari Salman Al Farisi r.a. beliau berkata : “Rasulullah Saw., berkhutbah didepan kita di hari akhir bulan Sya’ban : “Wahai manusia, telah datang kepadamu bulan yang diberkati, di dalamnya ada malam lebih baik dari seribu bulan. Allah mewajibkan puasa, menjadikan sholat malam sebagai ibadah sunnah, barang siapa melakukan kebajikan dalam satu perkara baik, maka ia seperti telah menjalankan kewajiban pada perkara lainnya, barang siapa melakukan satu kewajiban maka (pahalanya) seperti menjalankan 70 kewajiban.
Itu merupakan bulan kesabaran, orang sabar berpahala surga, itu bulan tuntunan, pada bulan itu tizqi seorang mukmin ditambahkan, barangsiapa memberi makan orang puasa, maka pahalanya sama dengan memerdekakan seorang budak dan menghapuskan dosa-dosanya.

Rasulullah Saw., ditanyai : “Wahai Rasulullah, tidak semua mempunyai sesuatu untuk memberi makan orang puasa”. Beliau menjawab : “Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi buka puasa walaupun hany seteguk susu, atau sebutir kurma atau seteguk air, barang siapa memberi makan hingga kenyang kepada orang yang berpuasa maka ia berhak mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya, dan allah akan memberinya minuman dari telagaku dengan minuman yang olehnya ia tidak akan merasa haus hingga memasuki surga dan ia mendapatkan pahala seperti orang puasa tadi tanpa kurang sedikitpun.
Itu bulan yang awalnya rahmat, tengahnya maghfirah (ampunan) dan akhirnya diselamatkan dari neraka. Barang siapa meringankan beban budaknya pada bulan ini, maka Allah akan menyelamatkannya dari neraka.
Hadist tersebut diriwayatkan oleh Harist bin Usamah dan Ibnu Huzaimah dalam kitab Sahihnya. Ibnu Huzaimah berkata, sekiranya hadist ini sahih, dari jalurnya diriwayatkan oleh Baihaqi dan Ibnu Hayyan.
Berharap Jangan Sampai Tidak Diampuni Allah Dibulan Penuh Ampunan
Sahabat yang dirahmati Allah,
Di setiap malam bulan Ramadhan Allah Ta’ala mengampuni dan memerdekakan hamba[hamba-Nya dari api neraka. Subhanallah semoga kita termasuk di dalamnya. Allahuma amin.
“Abu Hurairah radhiyalaahu’anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Jika pada awal malam bulan Ramadhan maka para syetan dan pemimpin jin terbelenggu dan tertutup pintu-pintu neraka dan tidak satu pintupun terbuka dan dibukakan pintu-pintu surga dan tidak satu pintupun tertutup lalu ada suara yang menyeru : Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Dan Allah mempunyai orang-orang yang dimerdekakan dari neraka dan yang demikian itu pada setiap malam!”(Hadits riwayat Tirmidzi, dishahihkan di dalam kitab Shahih AL Jami’)
Oleh sebab inilah...
Jangan biarkan bulan Ramadhan ini berlalu begitu saja sebelum kita diampuni dan dimerdekakan oleh Allah Ta’ala dari api neraka
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang disebutkanku, lalu dia tidak bershalawat atasku, sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya), sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’)
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata : Bahwa Nabi Muhammad Saw.,l pernah naik ke atas mimbar, lalu bersabda : Amin, amin, amin, sesungguhnya ketika engkau naik ke atas mimbar, engkau mengucapkan “Amin, amin, amin”, kenapa?”, beliau menjawab : Sesungguhnya Jibril telah mendatangiku, lalu berkata : Siapa yang mendapati bulan Ramadhan lalu tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga), katakanlah : “amin (Kabulkanlah, Ya Allah), maka akupun mengucapakan “Amin”, lalu Jibril berkata lagi : “Siapa mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dan tidak berbakti kepada keduanya, lalu dia mati dan tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga)”, katakanlah :”Amin:, maka akupun mengucapkan “amin”, Jibril berkata lagi : “Siapa yang disebutkan aku lalu dia mati dan tidak diampuni baginya, maka akhirnya masuk neraka dan dijauhkan Allah (dari surga)”, katakanlah “amin” maka akupun mengucapkan “Amin”. (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’)
Maksud dari (Sungguh sangat terhina dan rendah), ini adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan kepada kiasan tentang puncaknya kehinaan dan kerendahan seseorang karena dia tidak menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. (Lihat kitab Mir’at Al Mafatih Syarh Misykat Al Mashabih, karya Ubaidullah Al Mubarakfury)
Maksud dari : “...seseorang yang datang kepadanya Ramadhan kemudian berlalu sebelum diampuni untuknya (dosa-dosanya)”, adalah :
“Berlalu bulan Ramadhan sebelum diampuni baginya dosa-dosanya karena dia tidak bertaubat dan tidak mengagungkan bulan Ramadhan dengan bersungguh-sungguh didalam ketaatan sehingga diampuni baginya dosa-dosanya”. (Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, karya Muhammad Al Mubarakfury)
“Sungguh terhina seseorang yang mengetahui bahwa, kalau di menahan dirinya dari hawa nafsu selama sebulan pada setiap tahun dan mengerjakan apa yang diwajibkan baginya yaitu berupa puasa dan shalat terawih, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu, tetapi dia malah meremehkan dan tidak beribadah (sebagaimana mestinya), sampai selesai dan berlalu bulan tersebut. Maka siapa yang mendapati kesempatan yang sangat besar ini, yaitu dengan mengerjakannya karena iman dan mengharapakan pahala, maka Allah akan memuliakannya, sedangkan yang tidak mengagungkan-Nya maka Allah akan menghinakan dan merendahkannya”. (Lihat kitab Faidh Al Qadir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, karya Al Munawi)
Terakhir sebagai peringatan ! Hadits tentang bulan Ramadhan yang berbunyi : “Dan dia adlaah bula pertamanya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya kemerdekaan dari api neraka”.
Hadits ini derajatnya mungkar, yaitu hadits lemah menyelisihi hadits yang shahih, karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jad’an, Imam Ahmad mengatakan dia adalah perawi yang lemah, Ibnu Khuzaimah mengatakan : “Aku tidak bersandar dengan haditsnya karena lemahnya hapalannya”, disamping itu riwayat ini menyelesihi hadits shahih yang disebutkan diatas, yang mana kemerdekaan dari api neraka disetiap malam bulan Ramadhan (Lihat kitab Sisilat Al Ahadist Adh Dha’ifah wa Al Maudu’ah, no. 871) Wallahu a’alam. Oleh : Ustadz Abu Abdillah Ahmad Zain, Lc

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar