Afwan, Umi

19.23.00


Apakah cinta itu sangat penting dalam kehidupan seseorang..?? Bagiku cinta itu tidak begitu penting. Mengapa...?? Karena cinta terkadang bisa membuat seseorang menderita. Memang ada kalanya juga, cinta dapat membuat seseorang seperti melayang diudara. Aku mempunyai adik perempuan yang umurnya tidak jauh berbeda denganku. Namanya adalah Fanisha. Aku dan adikku berada dalam satu sekolah dan pastinya satu rumah. Kami hanya berbeda satu tahun saja. Ku akui, dia memang lebih cantik dariku. Tapi sikapnya itu, benar-benar dapat membuat seseorang jantungan. Dan yang paling membuat aku kesal adalah dia selalu merebut pacarku.

Sahabatku bernama Salfina. Dialah satu-satunya orang yang dapat mengerti akan perasaanku. Disekolah, aku memang agak nakal. Tetapi adikku lebih nakal dariku. Pacarku bernama Firman. Kami sudah lama jadian. Selama aku jadian dengannya, aku paling takut untuk mengajak dia kerumah. Mengapa...??. Karena aku takut dia bertemu dengan adikku. Adikku selalu menggoda. Aku takut pacarku tergoda olehnya. Ketakutanku pun terjawab. Pada suatu saat secara tiba-tiba, Firman datang kerumahku. Dan yang aku takutkan pun terjadi. Dia tergoda oleh adikku. Aku pun mengalah demi adikku. Sekarang, firman berhubungan dengan Fanisha. Ternyata, sedikit demi sedikit Fanisha merampas harta Firman dengan rayuan yang dia punya. Aku hanya bisa berfikir. Mengapa Fanisha seperti ini..??. Mengapa dia tidak pernah sadar..?.
Aku jadi teringat ayahku. Ayahku meninggal karena tak kuat menghadapi sikap Fanisha yang seperti itu. Fanisha telah membuat ayah jantungan. Kini aku hanya mempunyai ibu yang tetap sabar menghadapi Fanisha dan juga aku.
Pagi pun tiba. Aku dan Fanisha bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Sedangkan ibu menyiapkan sarapan pagi untuk kami berdua. Setelah sarapan, kami berdua pun berangkat. Ketika sampai  di sekolah, kami pun berpisah karena kami berbeda kelas. Fanisha kelas 2 SMA, sedangkan aku kelas 3 SMA. Jadi, bisa dibilang persaingan antara aku dan Fanisha benar-benar dekat. Bel berbunyi. Seluruh siswa pun masuk. Jam pertama adalah pelajaran agama islam. Tak lama kemuadian guru mata pelajaran PAI yang bernama pak Arif pun masuk. Kali ini, beliau menjelaskan tentang hukum antara wanita dan juga laki=laki.
“Haram hukumnya bagi laki-laki dan juga perempuan duduk berduaan. Karena orang yang ketiganya adalah syetan. Syetan akan menggoda untuk melakukan sesuatu yang diharamkan oleh Alloh. Kita harus mempunyai iman yang kuat untuk menahan segala hawa nafsu. Sesungguhnya dalam islam itu tidak mengenal kata pacaran. Yang ada hanyalah ta’aruf. Tapi ta’aruf pada zaman sekarang telah disalah artikan. Dan juga pada zaman sekarang banyak sekali wanita-wanita yang tidak menutup auratnya. Menutup aurat itu hukumnya adalah wajib. Laki-laki pun tidak akan berbuat senonoh apabila wanita itu menjaga auratnya dengan baik.”
Tak terasa satu jam berlalu. Aku pun merenungi apa yang disampaikan oleh pak Arif. Timbul dari hatiku untuk memulai menutup aurat. Di tengah lamunanku, tiba-tiba Bapak Kepala Sekolah memanggil semua siswa agar berkumpul di tengah lapangan. Tapi ada apa ya? Akhirnya,kami semua pun berkumpul di tengah lapangan. Ketika sampai, aku kaget bahwa di tengah-tengah  kumpulnya seluruh siswa ada adikku Fanisha dan teman laki-lakinya dalam keadaan yang setengah tidak pakai baju.
‘’Astagfirullohhal adzim Fanisha. Ada apa ini, Salfina?” tanyaku pada sahabatku
‘’Salfina juga tidak tau. Mengapa adikmu bisa ada disana....?’’ Jawab Salfina
Lalu Pak Kepala Sekolah berkata.
‘’Inilah contoh yang sangat tidak baik. Inilah murid yang merusak nama baik sekolah dan juga  mempermalukan keluarganya sendiri. Apa kalian senang mempunyai teman, adik kelas, atau kakak kelas yang seperti ini?,’’kata Pak Sekolah.
‘’Pak sebenarnya ini ada apa, pak?.’’tanyaku sambil menahan malu karena aku adalah kakanya
‘’Dia telah berbuat zina di kamar UKS. Apakah pantas seorang siswa dan siswi melakukan hal seperti itu..?? Sungguh menjijikkan dan sangat memalukan. Hari ini juga kamu berdua bapak keluarkan.” Ucap Bapak Kepala Sekolah sambil pergi meninggalkan lapangan.
Betapa sakitnya hatiku. Mengapa adikku seperti  ini. Air mataku pun keluar secara perlahan kemudian mengalir. Kurang pengertian apa dari ayah dan juga ibu..?. Bahkan aku juga hampit tidak pernah diperhatikan oleh ayah dan juga ibu.  Terkadang aku cemburu pada Fanisha.
Ketika dirumah, ibu sangat marah sekali pada Fanisha. Fanisha langsung bersujud di bawah kaki ibu untuk meminta maaf. Kini, dia telah sadar akan perbuatannya. Ibu yang sangat kecewa sekali pada Fanisha merasa berat untuk memaafkan Fanisha. Aku mencoba untuk menenangkab hati ibu dan berusaha membujuk ibu agar bisa memaafkan Fanisha. Fanisha yang sangat merasa bersalah, terus menangis meminta maaf sambil memegang kaki ibu. Suasana itu membuat hatiku sangat sedih.
Selama beberapa hari, ibu tidak pernah mengajak bicara apalagi memperhatikan Fanisha. Ibu menganggap Fanisha tidak ada dirumah. Tak lama kemudian, Fanisha jatuh sakit. Sakitnya itu sangat aneh sekali.  Ketika diperiksa di dokter, dia tidak mengalami apa-apa. Meski Fanesha sedang sakit, ibu tetap saja tidak mau menemui Fanisha. Aku berusaha membujuk ibu agar bisa memaafkan kesalahan Fanisha. Lama kemudian hati ibu pun luluh dan ibu bersedia untuk melihat keadaan Fanisha.
Ibu langsung menangis melihat keadaan Fanisha yang sangat menyedihkan. Fanisha mencoba meminta maaf lagi kepada ibu dengan harapan ibu bisa memaafkannya. Ibu pun bersedia untuk memaafkan Fanisha. Raut wajah Fanisha pun tersenyum merasakan lega. Tak lama kemudian, Fanisha pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
  

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar