Pertentangan Antara Dua Janji Allah

20.18.00

                Kebenaran mengenai janji-janji Allah kepada Nabi Ibrahim merupakan hal yang sulit dibuktikan. Bahkan apabila disimak akan ditemukan kejanggalannya dan terdapat pertentangan antara ayat yang satu dengan yang lain. Perjanjian yang diberikan kepada seorang nabi pasti selalu terwujud, dan apabila ada dua janji dari Allah yang saling bertentangan, berarti janji tersebut bukan dari Allah.
                Kalau kirta renungi janji Allah kepada Nabi Ibrahim yang pertama hanya terbatas menguasai tanah Kanaan.1) yaitu daerah yang terletak disebelah Barat Yordan. Kita akan tersentak bila membaca janji Allah yang terakhir, yaitu tanah yang dikuasai oleh Nabi Ibrahim dan keturunannya terbentang luas memanjang dari sungai Nil samapai sungai Eufrat.2)
                Inilah sebagai bukti bahwa kalimat-kalimat wahyu itu sudah dikotori oleh tangan manusia-manusia Israel untuk kepentingan tertentu, dari kupasa ini bisa ditarik garis besar bahwa penulisan wahtu itu dilakukan setelah Israel keluar dari negeri Mesir. Disamping itu wahyu tersebut tidak mungkin ditulis saat mereka masih lemah dan dan belum mampu mendirikan negara sendiri.
                Pada wahyu tersebut diceritakan bahwa keturunan Ibrahim akan hidup dinegara lain sebagai imigran dan mengalami penderitaan selama 400 tahun.3) setelah itu mereka dapat mendirikan negara dan menaklukkan negara tetangganya.4)
                Kalimat “Menaklukkan negara tetangga” apabila direnungkan, seolah ada permusuhan dan dendam kesumat yang bersarang di hatinya. Pada masa Nabi Ibrahim, yaitu pada abad ke 20 SM., suku bangsa yang tinggal di tanah Kanaan adalah bangsa Arab dan suku bangsa Kanaan sendiri.
                Pada kitab Kejadian telah dicantumkan beberapa nama yang akan bertekuk lutut kepada Israel. Cerita itu juga diulangi pada kitab Keluaran. Suku bangsa yang menyerah kepada Israel yang tercantum pada Kitab Kejadian berbeda dengan yang disebutkan pada kitab kedua, yakni Keluaran.
                Bangsa yang akan tunduk kepada Israel itu memang namanya ada di saat Nabi Musa dan Israel keluar dari Mesir. Peristiwa itu terjadi pada abad ke 18 SM., bukan pada masa Ibrahim yaitu abad ke 20 SM.. jadi antara masa Nabi Musa dan Nabi Ibrahim terpaut dua abad. Perbedaan waktu itu juga menunjukkan perbedaan kebudayaan dan peradabannya. Sebab setiap waktu terjadi perubahan dan perkembangan di segala bidang kehidupan.
Tanah yang dijanjikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim di kala itu sudah padat penduduknya. Disamping itu Nabi Ibrahim menginjak tanah Palestina bersama istri dan kemenakannya yang bernama Lut. Mereka tidak memiliki keturunan yang besar didaerah tersebut. Sebab anak beliau yang bernama Ismail diluar Palestina yaitu di Makkah. Cucu beliau yang bernama Esau bin Ishak. Namun Yakub dan anak-anaknya pindah kenegeri Mesir. Pada waktu itu mereka hanya berjumlah tujuh puluh orang. Jadi Palestina merupakan daerah yang sama sekali tidak ditempati oleh keturunan Ibrahim.5)
                Jadi wahyu yang menjanjikan keturunan Nabi Ibrahim akan dapat menguasai bangsa lain, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Berarti kebenaran adanya wahyu yang diterima oleh Nabi Ibrahim itu harus ditinjau kembali. Lalu timbul pertanyaan, “Apakah betul Ibrahim menerima wahyu seperti itu, ataukah pendeta Yahudi yang mengada-ada? Benarkah Allah menjanjikan tanah itu kepada Nabi Ibrahim?”
                Didalam Kitab Kejadian diceritakan bahwa keturunan Ibrahim akan mampu menaklukkan bangsa lain dengan kekuatan yang mereka miliki. Ternyata mereka baru bisa menundukkan bangsa lain setelah keluar dari Mesir, dan tidak pernah terjadi (bisa menaklukkan bangsa lain) disaat Nabi Ibrahim, Nabi Ishak dan Nabi Yakub masih hidup, lantaran jumlah mereka masih sedikit inilah letak kepalsuannya.
                Didalam Kitab Keluaran juga ada cerita bahwa suku bangsa lain harus dibinasakan. Dalam berhubungan, bangsa Israel harus menggunakan cara tersendiri, yaitu rasa permusuhan harus betul-betul ditanamkan dalam lubuh hatinya, hingga pada suatu saat nanti bangsa lain harus tunduk dan mengikuti kehendak Israel. Menurut keyakinan Israel, cara inilah yang diberkahi oleh Tuhan.6)
                Di masa Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak dan Nabi Yakub tidak ada permusuhan dengan bangsa lain. Hubungan mereka dengan orang lain terjalin baik. Begitu pula keadaan generasi berikutnya. Kenyataan ini sebagai bukti argumen yang tepat bahwa wahyu mengenai keunggulan Israel perlu dikoreksi lagi.
                Hubungan antara bani Israel dengan bangsa lain pada mulanya berjalan baik, tiada hambatan yang merintanginya. Namun perangai para pemimpinnya mengalami perubahan, dan sinar ajaran Yahudi yang asli semakin redup karena dilalaikan oleh pengikutnya, bahkan terjadi keretakan hubungan di kalangan mereka sendiri. Faktor yang menimbulkan masalah tersebut adalah nafsu angkara murka yang tidak terkendali. Bani Israel merasa superior dan memandang suku bangsa lain sebagai budak yang tidak layak hidup bahagia.7) Mereka merencanakan untuk menaklukkan bangsa lain dengan kekuatan militer. Wahyu tersebut (yang menerangkan bahwa mereka akan dapat menguasai bangsa lain) dijadikan sebagai modal dasar untuk membangkitkan semangat perjuangan.

<= Bangsa Yahudi | no page =>
Selanjutnya

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar