Tujuan yang Terlupakan

19.09.00

Al Qur’an telah mengajarkan kepada kita bahwa sebaik-baik permintaan manusia itu adalah sebagaimana dimaksud dalam surat Al Baqarah ayat 201 :

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”

Semua kegiatan yang dilakukan oleh manusia, pasti mempunyai tujuan tertentu. Seorang pegawai, rela menghabiskan sepanjang harinya mengerjakan pekerjaan kantor, karena ia mempunyai tujuan ingin memperoleh upah untuk menghidupi anak dan istrinya. Bila suatu saat kantornya itu tidak dapat lagi memberinya upah, tentu ia akan segera keluar dari kantor itu.

Orang yang tidak tahu tujuan kegiatan yang dilakukannya, adalah ibarat sapi pejagalan. Sapi tidak pernah tahu untuk apa ia di bawa ke tempat pejagalan. Seandainya saja dia tahu, tentunya dia tidak punya selera lagi untuk makan rerumputan segar yang disodorkan ke padanya; atau setidak-tidaknya ia akan berusaha mencari-cari kesempatan untuk kabur dari tempat itu.

Demikian jugalah kiranya pada waktu mempelajari agama. Kita seharusnya tahu, untuk apa tujuan mempelajari agama itu. Bila tidak, bukankah ini berarti kita sama saja dengan sapi yang disebutkan tadi ? untuk apakah sebenarnya tujuan kita mempelajari agama? Tidak diragukan lagi, kita perlu mempelajari agama, yaitu agar di dunia kita bisa hidup bahagian dan diakhirat kelak akan menempati surga. Bila sekarang ini kita masih juga dilanda stres, gelisah, dendam, iri hati, kecewa berat, dan segala macam apapun yang bertentangan dengan kebahagiaan; maka haruslah kita akui dengan jujur, bahwa pelajaran agama yang telah kita dapatkan selama ini, ternyata masih jauh dari tujuannya. Pengajian-pengajaian atau pun caramah agama yang kita ikuti, mungkin masih kurang banyak. Atau, kita sudah cukup rajin menghadiri pengajian-pengajian agama, tetapi kita belum pandai memilah-milah dan memilih yang disampaikan oleh pak kiai, apa yang seharusnya kita benamkan ke dalam jiwa, hanya kita lewatkan saja di telinga, sebaliknya, apa yang seharusnya dilewatkan saja di telinga seperti selingan humor yang di samapaikan pak kiai justru itu yang kita benamkan dalam hati. Hal ini terjadi karena kemungkinan besar kita lupa, untuk apa sebenarnya tujuan kita hadir di tempat pengajian itu. Bila sejak awal kita mengetahui dengan benar apa tujuan kita menghadiri pengajian, maka mestinya kita akan dapat memilah-milah mana pasir dan mana mutiara. Insya Allah. Mudah-mudahan firman Allah dalam surat Al Kahfi ayat 103-104, dapat menggugah hati kita untuk melakukan introspeksi, apakah selama ini kita sudah benar dalam mempelajari agama. Jangan-jangan kita seperti sapi, yang tahu tempat pejagalan tetapi tidak tahu untuk apa ia berada disana.

Katakanlah : “Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya.”

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar