Binatang Idaman Nabi

19.14.00

Allah dalam Al Qur'an surat An Nahl ayat 66 berfirman :
“Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu.”
Pernahkah kita memperhatikan tiga binatang kecil, yaitu semut, laba-laba dan lebah? Mungkin kita sependapat, bahwa di antara ketiganya, semutlah yang paling rajin menghimpun makanan. Ia menghabiskan waktu-waktunya hanya untuk mengumpulkan makanan, sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Semut ini cenderung menghimpun makanan untuk persediaan bertahun-tahun, walaupun disadarinya usianya sendiri
tidak akan lebih dari satu tahun. Ketamakannya sedemikian besarnya, sehingga tak jarang kita melihat semut yang berusaha memikul sesuatu yang jauh lebih besar dari badannya, walaupun sesuatu itu sebenarnya tidak berguna baginya.
Lain lagi halnya dengan laba-laba. Mungkin tidak ada binatang yang lebih mengerikan dari pada laba-laba. Sarangnya, walaupun lemah, jelas bukan tempet yang aman bagi makhluk lain. Apa pun yang berlindung atau terjaring disana pasti akan di sergapnya dengan tak kenal ampun. Bukan itu saja. Jantanya sendiri selepas berhungan, selalu dibunuh oleh betinanya. Bahkan telurnya yang menetas pun selalu saling berdesakan, hingga dapat saling memusnahkan antar sesama.
Bagaimana dengan lebah? Lebah sangat disiplin dan mengenal pembagian kerja yang sangat baik. Sarangnya dibangun berbentuk segi enam, yang telah terbukti sangat ekonomis dan kuat dibandingkan bila segi empat atau lima. Dan lagi, sarangnya selalu terjaga dari benda-benda yang tidak berguna. Yang dimakannya pun adalah sari kembang-kembang yang kemudian diolahnya menjadi madu dan lilin yang sangat bermanfaat untuk manusia. Lebah tidak mengganggu bila tidak diganggu. Sengatnya hanya dikeluarkan bila ia merasa terancam saja. Dan sengatannya itu pun ternyata dapat menjadi obat bagi penyakit-penyakit tertentu.
Sikap hidup manusia sering kali diibaratkan dengan semut, laba-laba atau lebah. Manusia yang berbudaya semut, senang menghimpun dan menumpuk sesuatu yang tidak dinikmatinya. Ia menggali ilmu tetapi tidak mengolahnya lebih lanjut, sehingga jiwanya tetap saja kering. Ia menumpuk-numpuk harta tanpa mengerti makna harta itu sendiri, sehingga ia tetap saja seolah-olah fakir. Aji mumpung adalah andalan ilmunya.
Sedangkan manusia yang berbudaya laba-laba tidak lagi butuh berpikir apa, dimana, dan kapan ia makan; tetapi yang mereka pikirkan adalah : siapa hari ini yang akan mereka makan!
Sebaliknya, manusia yang berbudaya lebah tidak mengganggu, apalagi merusak. Tidak makan kecuali yang baik. Tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat. Dan jika dirinya menimpa sesuatu, tidak akan menyebabkan kerusakan pada yang ditimpanya.
Nabi Muhammad Rasulullah S.A.W. pernah beramanat bahwa seorang Mukmin itu hendaknya seperti lebah. Namun nampaknya kita lebih suka menambah jumlah semut, atau bahkan laba-laba, ketimbang berpartisipasi memperbanyak populasi lebah. Memang, menjadi minoritas yang berkualitas itu tidaklah mudah.
“Sabar dari menahan nafsu itu berat, tetapi menahan siksaan neraka itu jauh lebih berat dari pada menahan nafsu!”

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar