Ayahku!

10.26.00

Sebelum saya ceritakan tentang seorang ayah pada artikel ini.
Allah telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al Munafiqun ayat 11, yang artinya :

“Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya”

Tidak diragukan lagi bahwa kita akan mati, tidak peduli sesehat apapun kita sekarang akhirnya akan mati juga. Oleh karena itu, mati tidak perlu kita takuti karena pasti terjadi, tetapi kita perlu takut pada apa yang akan terjadi setelah mati.
Sehubungan dengan ini, Nabi kita yang mulia bersabda :

“sesungguhnya kubur adalah tempat permulaan dari tempat-tempat akhirat. Kalau pemiliknya selamat darinya, maka apa yang ada sesudah itu lebih mudah baginya. Kalau pemiliknya selamat darinya, maka apa yang ada sesudah itu lebih mudah baginya. Kalau pemiliknya tidak selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya adalah akan lebih berat lagi.”

Sekarang marilah kita renungkan cerita tentang seorang anak gadis yang baru ditinggal mati ayahnya. Ia menangis sedih di makam ayahnya. Diantara isak tangisnya, terdengar lirihannya :

• Wahai ayahku, engkau telah kukafani dengan sebungkus kafan, tetapi masihkah engkau mengenakan kafan itu besok? Aku telah meletakkan tubuhmu yang segar bugar dalam kubur, masih bugarkah engkau atau sudah mulai digerogoti cacing?


• Ayahku, orang-orang alim mengatakan, bahwa semua hamba besok akan ditanya tentang imannya. Di antara mereka ada yang bisa menjawab, tetapi ada yang Cuma membisu. Adakah ayah nanti bisa menjawab, atau hanya membisu?

• Ayahku, orang alim pun berkata, bahwa kain kafan orang yang meninggal ada yang diganti dengan kain kafan surga dan ada pula yang dari neraka. Kain kafan dari mana yang ayah gunakan sekarang?

• Ayahku, orang alim berkata, bahwa kuburan itu merupakan secuil taman dari taman di surge, tapi bisa juga merupakan sebuah lubang dari lubang neraka. Yang kupikirkan, bagaimana kuburan ayah sekarang? Taman surgakah, atau lubang neraka?

• Ayahku, orang alim berkta bahwa liang kubur bisa menghangati mayat dengan memeluknya seperti pelukan ibu kepada anaknya, tetapi bisa juga merupakan lilitan erat yang meremukkan tulang-tulang si mayat. Bagaimana keadaan tubuh ayah sekarang, pelukan manakah yang ayah rasakan.

• Ayahku, orang alim berkata, orang yang dikebumikan itu ada yang menyesal mengapa dahulu semasa hidupnya tidak memperbanyak amalan bagus, tetapi malahan mengumbar maksiat. Yang kutanyakan pada ayah, apakah ayah termasuk yang menyesal karena perbuatan maksiat, ataukah yang menyesal karena sedikit melakukan amal kebagusan?
• Ayahku, dahulu setiap aku memanggilmu tentu engkau menjawab, tetapi kini engkau kupanggil-panggil tak lagi mau menjawabku. Engkau kini telah berpisah denganku dan tak bersua lagi sampai hari kiamat, semoga Allah tidak menghalangi perjumpaanku denganmu.”

Seandainya pertanyaan ini yang mengajukannya adalah anak kita yang kita cintai, yaitu pada waktu kita mati dan baru dikubur, bagaimana perasaan kita? Mampukah kita menjawabnya? Semoga hal ini dapat memotivasi kita untuk lebih meningkatkan pengabdian kita kepada-Nya, sehingga kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi dengan mantap dan bangga. Kurang lebihnya mohon dapat dimaklumi dan dimaafkan.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar