Percikan Ilahiyyah

18.30.00

Dalam Al Qur’an surat At Tiin ayat 4, yang artinya :


“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
 

Manusia memang merupakan hasil ciptaan Allah yang luar biasa. Ilmu pengetahuan modern telah menemukan, bahwa tubuh manusia di bangun oleh tidak kurang dari 25 bentuk dan fungsi yang berbeda-beda. Sungguh luar biasa! Sebagai perbandingan, komputer yang paling canggih sekalipun, komponennya tidak akan lebih dari sejuta. Bahkan pesawat tidak dibangun dari semilyar komponen.
Kecanggihan manusia itu menjadi semakin sempurna tatkala Allah berkenan memercikan sifat-Nya ke dalam
diri manusia. Maka kita lihat manusia itu mempunyai rasa kasih sayang, rasa keadilan, kemampuan untuk mencipta, dan lain sebagainya.
Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah S.A.W. bersabda :


“Allah Yang Maha Kepujian menjadikan sifat rahmat seratus bagian, Maka dipeganglah di sisi-Nya 99 bagian dan diturunkan-Nya satu bagian ke bumi, Maka dengan yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor hewan mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak olehnya.”
 

Untuk apa Allah memercikkan sebagian kecil sifat-Nya kepada diri manusia? Boleh jadi agar manusia mudah merasakan hal-hal apa yang diridho-Nya, dan apa yang tidak disukai-Nya. Sehingga dengan demikian, manusia yang mau menggunakan potensi akal dan kalbu yang dimilikinya dapat menemukan dan merasakan kebenaran hakiki yang akan menuntunnya ke surga. Dengan begitu, manusia yang tidak tersentuh oleh keberadaan suatu kitab suci pun tetap akan mampu menemukan kebenaran. Yaitu, kebenaran dari sudut pandan Ilahiyyah. Tetapi ini tentu saja bila ia mau menggunakan akalnya untuk berpikir. Karena, manusia bukanlah makhluk yang dapat dibentuk hanya oleh guru atau seorang pendidik belaka. Tetapi segala sesuatunya, ditentukan oleh dirinya sendiri. Manusia bukanlah sebongkah batu yang dapat diubah bentuknya menurut selera si pematung sendiri. Oleh karena itu, seberapa sering pun kita mendengar nasihat dari orang-orang bijak, dan kalbu kita untuk memahaminya, maka itu semua tidaklah ada artinya.
Manusia walaupun dibentuk dari 25 milyar sel, tetapi tidak cukup hanya bersandar kepada pendidik dari luar dirinya. Manusia bukanlah barang pasif yang dapat dibentuk semaunya oleh faktor luar, yaitu seperti halnya seorang pematung membentuk batu. Manusia berbeda dengan batu. Batu tidak memerlukan perjuangan dalam dirinya untuk berubah menjadi patung. Di tangan sang pematunglah di tentukan nasibnya, apakah menjadi patung yang indah atau patung yang jelek. Manusia tidak demikian! Tidak ada orang bijak di dunia ini yang mampu membuat manusia menjadi indah. Bentuk kita memang diserahkan sepenuhnya kepada diri kita sendiri. Bahkan wejangan dari seribu Nabi pun, tidak akan mampu menjadikan manusia itu indah selama manusia itu sendiri tidak mau menggunakan kemauannya untuk menjadi indah. Oleh karena itu, mungkin percuma saja kita menghabiskan waktu mengikuti pengkajian-pengkajian agama bila hati kita sendiri tidak mau berjuang untuk menghayati segala perkataan bijak yang kita dengar. Atau orang Betawi bilang, percuma enten gaji kalo Cuma “jiro” doang!
[ jiro = habis ngaji ditaro! ]
Dengan merenungkan hail ini, maka “ancaman” Allah dalam Al Qur’an surat Al A’raaf ayat 179 terasa menjadi sangat wajar :

“Sesungguhnya Kami ciptakan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dari manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mempunyai mata tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Betapa pentingnya untuk bertafakur, merenungi kembali perkataan-perkataan bijak yang telah disampaikan kepada kita. Apalagi Nabi kita yang mulia telah bersabda ;

“Bertafakur sejenak, lebih baik dari pada ibadah satu tahun.”

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar