Sifat Rasulullah yang Gagah Berani

22.09.00


Kepribadian Yang Gagah Berani



Tidak ada yang menyangkal sediktpun mengenai ketguhan pendirian serta keberanian Rasullullah Saw.. Panji-panji Islam yang sudah berdiri tegak dimuka bumi ini adalah karena usaha dan keberanian beliau dalam memberantas kejahiliyahan. Kita tahu bahwa kejahiliyahan atau kebodohan orang-orang yang dihadapi Rasulullah ketika itu, bukanlah orang yang bodoh dan salah jalan, kemudian mengakui dengan lega atas kebodohan dan kekeliruan mereka. Sehingga ketika ada orang yang menunjukinya dengan jalan yang lurus, mereka akan menerima dan mengikutinya.

Rata-rata orang yang dihadapi beliau Saw., adalah orang yang sangat kuat menjaga gengi, serta tidak mau dikatakan bahwa jalan yang mereka tempuh adalah kekeliruan. Demi gengsinya, mereka lebih rela kehilangan harta benda bahkan nyawa, agar harga dirinya tetap terjaga, meskipun berjalan dalam kekeliruan dan kesesatan. Coba saja kita bayangkan, jika Rasulullah Saw., adalah orang yang pengecut, kecil hati dan penakut, mungkin tidak akan agama Islam yang berdiri tegak dimuka bumi ini.

Ketika Islam sudah berkembang, beliau terus saja memerangi kaum kafir dengan keberaniannya. Beliau sendiri yang mengatur prang, juga mengajari sahabat-sahabatnya bagaimana cara memainkan pedang. Belum pernah dalam sejarah pertempuran yang diikuti beliau melarikan diri dari medan pertempuran. Sungguh luar biasa keberanian beliau selaku panglima perang yang gagah berani dan bertanggung jawab terhadap keselamatan prajuritnya.

Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib ra., pada waktu perang Badar, kami berlindung kepada Rasul Saw., beliaulah orang yang berada dibarisan paling depan musuh, waktu itu beliau adalah orang yang paling berani.

Ada seseorang data kepada Al Bara’ kemudian orangg itu bertanya : 
“Apakah kalian termasuk orang yang melarian diri dari perang Hunain, hai Aba Ammarah ?”

Al bara’ menjawab : 
“Aku bersaksi bahwa Rasulullah Saw., tidak melarikan diri tetapi banyak yang berlari dan pergi ke Bani Hawazin, mereka iini adalah Ahli Panah. Kemudian Bani Hawazin memanahi mereka seakan-akan (hujan panah itu) seperti kaki belalang, akhirnya mereka bubar. Lalu orang-orang itu datang menghadap Rasulullah Saw., sementara Abu Sufyan Ibnu Harits menuntun binatang begolnya. Kemudian beliau turun dan berdoa serta memohon pertolongan-Nya, dengan berkata : “Aku seorang Nabi yang tidak pernah berdusta, aku putra Abdul Muthalib, ya Allah turunkanlah pertolonganmu”

Al Bara’ menambahkan : 
“Demi Allah, apabila peperangan semakin sengit, maka kami berlindung pada Rasulullah Saw., sedangkan kaum pemberani diantara kami bahkan berada di belakang beliau”.


Peperangan demi peperangan bisa dipastikan akan meninggalkan kesan yang sangat mendalam dihati para sahabat mengenai keberanian Nabi Muhammad Saw., di medan perang. Disegala medan pertempuran yang pernah dipimpin beliau tidak pernah mundur setapak pun, sehingga seluruh prajurit dan anggota pasukannya demikian kagum dan hormat kepada beliau. Karena itu, semua perintah dan isyarah beliau selalu di patuhi oleh mereka. Sikap pantang mundur yang diperlihatkan oleh Baginda Rasulullah Saw., di medan juang bila dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan perah yang gagah berani pada saat itu, mereka tidak ada apa-apanya. Keberanian dan ketangkasan Rasulullah Saw., dalam memukul mundur lawan-lawannya patut di acungi jempol.

Menantu beliau yang bernama Ali bin Abi Thalib, juga seorang pahlawan perang yang gagah berani dan belum pernah terkalahkan dalam adu pedang dengan lawannya. Namun ia juga mengakui akan kehebatan mertuanya itu. Ali ra., pernah berkata :
“Ketika perang sudah berkecamuk dengan dahsyatnya, dimana semua mata sudah berubah menjadi mereah, maka kami berlindung dibelakang Rasulullah Saw., pada saat-saat yang demikian gawatnya itu, beliaulah orang yang paling dekat dengan pasukan musuh !”

Anas bin malik ra., berkata :
“Rasulullah Saw,. Adalah manusia yang paling baik dan sangat bermurah hati, serta paling berani. Pada suatu malam penduduk Madinah dilanda rasa ketakutan yang luar biasa, karena mereka mendengar suara yang menggelegar memenuhi penjuru kota. Ketika semua orang menuju kearah suara yang dahsyat itu, maka Rasulullah Saw., sudah keluar duluan seorang diri menuju ke arah suara tersebut, kemudian beliau kembali sambil menunggang kuda kepunyaan Ab Thalhah, sedangkan pedangnya dikalungkan dilehernya, beliau lalu berkata kepada orang banyak : “Kalian jangan takut, karena tidak ada sesuatu yang harus ditakuti !”. demikian cara beliau menenangkan orang banyak. Akhirnya mereka kembali pulang.

Muslim meriwayatkan dari Al Abbas ra., ia berkata :
“ Dalam perang Hunain, ketika pertempuran sedang sengit-sengitnya, beliau tetap berada diatas keledainya. Pada saat itu kaum muslimin menjadi panik dan barisan mereka kocar-kacir oleh serangan panah musuh yang bagaikan hujan, mereka banyak yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sedangkan Rasulullah Saw., justru sebaliknya, dengan gagah berani beliau melarikan keledainya menuju kearah musuh.” Al Abbas melanjutkan ceritanya : “Sampai aku memegang kendali keledai yang dinaiki beliau agar tidak terlalu cepat berlari”.


Muslim meriwayatkan dari Salamah bin Akhwa’ ra, ia berkata : Disaat sedang hebat-hebatnya perang Hunai, Rasulullah Saw., kemudian turun dari keledainya lalu mengambil segenggam tanah dan di taburkan kearah musuh yang sangat banyak jumlahnya itu. Dari taburan tanah tersebut maka tidak ada seorang musuh pun melainkan matanya terkena pasir yang bertebarann ditiup angin yang mendesir di medan perang. Akhirnya mereka mundur berangsur-angsur sampai lenyak dari pandangan mata.

Menurut riwayat Muslim yang lain : 
Ketika Rasulullah Saw., menaburkan tanah bercampur kerikil ke arah musuh, beliau berkata : “Pasti... pasti mereka akan kalah. Demi Tuhan yang Menguasai Ka’bah !”. pada saat yang gawat itu, sambil menghadapi serangan musuh yang sangat gencar yang diarahkan kepadanya, maka dengan suara lantang beliau berkata : “Aku adalah seorang Nabi, aku bukanlah pendusta dan aku adalah putra Abdul Muthalib”.

Al Bara’ ra., berkata : Dalam perang Hunain orang yang paling berana diantara kami adalah Rasulullah Saw..

Kita tahu bahwa orang-orang Arab kala itu sangat kuat persatuannya dalam menghadapi orang-orang yang dimusuhinya.

Perlu diketahui, bahwa musuh yang dihadapi oleh Rasulullah Saw, dan kaum muslimin dimedan prang Hunain itu terkenal keahliannya dan kemahirannya dalam memanah. Melihat Rasulullah Saw, tidak mundur setapakpun dalam menghadapi serangan kaum kafir, maka para sahabat yang melarikan diri itu akhirnya kembali ke medan perang. Disamping itu, Abbas tak henti-hentinya menyeruka kepada para sahabat yang lari agar kembali ke medan pertempuran dan menempati posnya masing-masing.

Disaat umat Islam terdesak dan lari kebelakang, maka Rasulullah Saw., memerintahkan Abbas agar memanggil para sahabat yang lari supaya kembali bertempur, akhirnya dengan pertolongan Allah juga perang Hunain di menangkan oleh kaum muslimin.

Ibnu Sa’ad dan Al-Baihaqiy meriwayatkan :
Dalam perah Uhud, Ubaiy bin Khalaf yang terkuutuk berusaha menyerang Rasulullah Saw., dari atas kudanya, beberapa sahabat yang mengetahui kejadian tersebut berusaha menghalangi Ubaiy bin Khalaf, namun Rasulullah Saw., berseru : “Biarkan dia datang kemari menyerangku !” para sahabat itu pun akhirnya membiarkan Ubai mendekati Rasulullah Saw., pada saat Ubaiy hendak menusukkan pedang kearah beliau, maka dengan seceat kilat beliau mengambil rencong dari tangan Al Harits bin Simah lalu diayunkan ke arah leher Ubaiy yang datang menyerangnya, mendapat sabetan rencong dari Rasulullah Saw., ia langsung jatuh tersungkur dari atas kudanya kemudian ia segera bangun dan kembali ketempat teman-temannya sambil berkata : “Aku telah dibunuh oleh Muhammad”. Teman-temannya yang mendengan keluhan Ubaiy ini tertawa, sera berkata : “Lukamu ini hanya sedikit dan sangat ringan sekali !”

Akan tetapi tidak demikian dengan apa yang dirasakan oleh Ubaiy bin Khalaf, sambil merintih kesakitan ia berkata : “Tidak… tidak... kalau yang aku derita ini menimpa pada orang biasa pasti mereka akan binasa. Sebab Muhammad terlah berkata : “Aku akan membunuhmu, Demi Allah, jika ia meludai aku tentu aku akan binasa juga”.

Diceritakan dalam “Tafsir Surat Yasin” : Pada suatu hari Rasulullah Saw., lewat didekat Ubaiy bin Khalaf. Beliau mengetahui Ubaiy bin Khalaf sedang merawat kudanya, lalu beliau bertanya : “Untuk apa kuda ini kamu rawat ?”. Ubai bin Khalaf menjawab : “Kuda ini akan aku naiki untuk membunuhmu!”. Rasulullah Saw., lantas menjawab : “Justru akulah yang akan membunuhmu disaat engkau berada di atas kudamu ini, Insya Allah !”. setelah menjawab demikian, Rasulullah Saw., meneruskan perjalanannya.

Peristiwa diatas sudah berlalu dalam masa yang panjang sampai meletus perang Uhud. Dalam perang Uhud, Ubaiy bin Khalaf berpihak pada tentara kafir Makkah, kemudian mereka menuju gunung Uhud.

Tatkala pasukan kaum muslimin dan pasukan kafir sedang bertempur dengan hebatnya, Ubai bin Khalaf bertemu Rasulullah Saw., tanpa membuang kesempatan emas Ubaiy langsung menyerang beliau dengan pedangnya, maka dengan kelincahannya beliau menghantamkan lebih dulu tombaknya ke arah leher Ubaiy bin Khalaf, tidak ayal lagi ia jatuh dari kudanya dengan darah segar mengalir dari lehernya.

Melihat lehernya terluka oleh tombak Rasulullah Saw., ia berteriak dengan teriakan yang sangat keras, dengan berkata : “Dimana Muhammad pergi ?. ia telah memukulku dengan tombaknya !”. Abu Sufyan dalam pertempuran ini menjabat kepala pasukan berkata kepada Ubai bin Khalaf “Wahai Ubaiy bin Khalaf, Demi Latta dan Uzza, jangan engkau buka mulutmu, sebab apa yang engkau lakukan ini tidak akan membuat suatu kemenangan, juga tidak akan bisa melindungi dirimu dari serangan kaum muslimin. Apakah hanya terluka seperti itu kamu berteriak-teriak seperti sapi dan anak kecil, padalah tentara yang lain sedang sibuk bertempur dan mereka juga terluka seperti lukamu ini ?”

Mendengar ucapan Abu Sufyan yang melecehkan dirinya maka Ubaiy bin Khalaf berkata : “Wahai Abu Sufyan, aku tidak menangis karena luka ini tetapi dikarenakan perkataan Muhammad tempo hari kepadaku, bahwa dirinya akan membunuhku disaat aku duduk diatas kudaku ini. Aku mengerti kalau Muhammad itu selamanya tidak pernah berdusta. Luka yang aku derita ini benar-benar membekas dlam hatiku !” Akhirnya Ubaiy bin Khalaf mati oleh lukanya itu.
Diriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata : kami bersama Rasulullah Saw., dalam perang Dzatir Riqa’, ketika sedang istirahat dibawah sebatang pohon rindang kami meninggalkan beliau sendirian. Tidak lama kemudian datanglah seorang musuh, lalu dengan secepat kilat ia menyambar pedang berliau yang digantungkan di dahan pohon tersebut. Kemudian dengan pedang yang terhunus dan sikap yang mengancam ia berkata : “Wahai Muhammad, siapakah yang akan membelamu sekarang ?” beliau dengan sikap tenang menjawab : “Allah”. Mendengar jawaban tersebut musuh tadi tidak berdaya, akhirnya ia diringkus oleh shahabat beliau.

Keberanian Rasulullah Saw, tidak hanya mencakup di medan perang semata. Dalam menegakkan hukum-hukum Allah, Rasulullah juga terkenal sangat ketat. Tidak ada hukuman pada zaman Rasulullah Saw., yang tidak disesuaikan dengan hukum-hukum Al Quran.

Hal itu tidak hanya membuat para shahabatnya merasa kagum. Musuh yang memerangi beliau, membencinya dan menginginkan kematian beliaupun pada akhirnya tunduk dan takluk melihat keberaniian yang ada pada kepribadian beliau yang agung. Bahkan Allah SWT pun mengagumi kemuliaan akhlak kekasihnya

Download Artikelnya, terimakasih sudah tidak copas.

https://sht.io/4919/https://drive.google.com/open?id=0B5m5rCYu5LAAZ0lXS2MxMlpnbUU

https://sht.io/4919/https://drive.google.com/open?id=0B5m5rCYu5LAAMGxjSmpWNXU0V1k

Tolong Share dengan klik tombol dibawah ini ya....
Baca juga artikel lainnya tentang Nabi Muhammad Saw => disini

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar