Teman Yang Abadi

17.26.00


Sayidina Ali Bin Abi Thalib r.a., pernah meriwayatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, ketika jenazahnya masih terbujur, diadakanlah “upacara perpisahan” di alam ruh. Pertama-tama ruh mayit dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayit itu berkata kepada seluruh kekayaannya, “Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu, sehingga aku lalai dan lupa untuk mengabdi kepada Allah, bahkan sampai aku tidak mau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini.” Lalu harta kekayaan itu berkata, “Ambillah dariku hanya untuk kain kafanmu.” Jadi hanya kain kafanlah harta yang dapat dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.
Sesudah itu si mayit dihadapkan kepada seluruh keluarganya (anak-anaknya, suami atau istrinya), lalu si mayit berkata, “Dahulu aku mencintai kalian, menjaga dan merawat kalian dengan sepenuh hatiku. Begitu susah payah aku mengurus diri kalian, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang kalian mau bekalkan kepadaku pada perjalanan menuju Allah ini?” kemudian keluarganya mengatakan, “Kami antarkan kamu sampai ke kuburan.”
Setelah itu si mayit akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau selama hidup ia banyak beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makhluk yang berwajah ceria dengan memancarkan cahaya dan aroma semerbak, yang jika dipandang akan menimbulkan kenikmatan yang tiada taranya. Sebaliknya, bila waktu hidup sering membangkang pada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka si mayit akan dijemput oleh makhluk yang menakutkan, dengan bau yang teramat busuk. Makhluk jelmaan itu lalu mengajak si mayit pergi. Bertanyalah si mayit, “Siapakah Anda ini sebenarnya? Saya tidak kenal dengan Anda.” Makhluk itu kemudian menjawab, “Akulah jelmaan amal kamu sewaktu hidup, dan aku akan selalu menemanimu dalam menempuh perjalanan panjang menuju Ilahi.”
Cobalah Nanda renungkan kisah ini. Perjalanan panjang yang mau tidak mau harus kita jalani kelak, akan ditemani oleh seorang “teman abadi” yang sebenarnya kita “Pilih” sendiri. Alangkah bahagianya bila “teman” ini menyenangkan, dan alangkah malangnya bila perjalanan jauh yang seoralah-olah tak berujung ini, ditemani “teman” yang selalu membuat kita sengsara. Ingatlah pula keterangan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw., berikut, “Sesungguhnya kubur adalah permulaan dari tempat-tempat akhirat. Kalau pemiliknya selamat darinya, maka apa yang ada sesudah itu leh mudah baginya. Kalau pemiliknya tidak selamat darinya, maka apa yang ada sesudahnya adalah lebih berat.”

“Kebinasaan umatku ada di dalam dua hal, yaitu meninggalkan ilmu dan mengumpulkan harta!”
Sabda : Muhammad Rasulullah Saw.

Catatan :
Al-Qur’an dalam surat Lukman ayat 33 memperingatkan, “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmua”. Banyak orang yang terperdaya, tapi tidak merasa diperdaya. Ilustrasi yang dikutip dari buku “Reformasi Sufistik” karangan Jalaluddin Rakhmat, mungkin tepat menggambarkan orang yang demikian itu.
“Pada suatu hari Juha berangkat ke pasar mengendarai keledainya. Sesampainya di pasar, ditambatkannya keledainya itu dengan seutas tali. Tanpa ia ketahui, di belakangnya ada dua orang pencuri. Begitu Juha masuk ke pasar, salah seorang diantara mereka mengambil keledainya dan mengikatkan talinya ke leher temannya. Mendapatkan keledainya hilang, tentu saja Juha panik. Apalagi dilihatnya ada orang yang tidak dikenalnya terikat tali keledainya. “Siapa Anda?” tanya Juha. Orang itu dengan wajah sedih dan malu berkata, “Saya ini adalah keledai yang Bapak miliki. Dahulu saya durhaka terhadap orang tua. Saya diubah Tuhan menjadi keledai. Hari ini rupanya orang tua saya telah memaafkan saya. Dan, Tuhan mengembalikan saya kepada bentuk semula.” Juha jatuh iba. Ia melepaskan orang itu. Sambil memberi uang untuk bekal pulang, ia memberi nasihat, “Jadikan kehidupan yang lalu sebagai pelajaran berharga. Jangan sekali-kali menyakiti hati orang tua!”
Keesokan harinya Juha ke pasar lagi. Ia terkejut, seorang tak dikenalnya sedang menawarkan keledainya. Juha, yang telah memiliki keledai itu bertahun-tahun, tentu saja mengenalnya dengan baik. Segera ia mendekati keledainya. Ia berbisik di telinganya, “Sudah kuperingatkan kamu jangan durhaka kepada orang tua. Baru satu hati aku bebaskan kamu sudah melakukan dosa yang sama. Sekarang rasakan saja hukuman kamu!” Juha pergi sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.”
“Wahai manusia! Aku heran pada orang yang yakin akan kematian, tapi ia hidup bersuka-ria. Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat, tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai.”
Hadist Qudsi

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar