Samudra Illahi

18.43.00

Q.S Al Baqarah ayat 216 :


“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Ada seorang ulama yang mengatakan, untuk dapat lebih memahami maksud firman Allah tadi, kita dapat merujuk pada pengalaman Nabi Musa A.S. kitika ia berguru kepada Nabi Khidir A.S.
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, Nabi Musa A.S. pernah disuruh Allah untuk berguru kepada seorang hamba saleh yang bernama Khidhir. Persyaratan yang diajukan Khidhir kepada Musa sederhana
saja, yaitu Musa tidak boleh bertanya mengenai apa yang di lakukannya sebelum hal itu dijelaskan sendiri oleh Khidhir. Diriwayatkan, suatu ketika mereka berdua pergi berlayar menumpang perahu seorang saudagar yang baik hati. Ketika perahu merapat di pantai, tiba-tiba Khidhir ‘mengamuk’. Dikampaknya perahu itu, sehingga perahu yang semula indah, kini tampak jadi berantakan. Kontan Nabi Musa A.S. yang terkenal temperamental menegurnya, “mengapa ini kau lakukan, bukankah kita telah diberinya tumpangan gratis? Engkau seungguh orang yang tidak tahu membalas budi!” mendengar ini Khidhir hanya menjawab pendek, “Bukankah engkau telah berjanji padaku tidak akan bertanya apapun yang aku lakukan?”
Musa tertegun dan teringat akan janjinya, bahwa ia telah menyanggupi tidak akan bertanya apapun yang dilakukan oleh Khidir.
Mereka pun lalu melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang anak kecil yang wajahnya tampn. Sekonyong-konyong Khidhir membunuh anak itu! Tentu saja nabi Musa A.S. terkejut dan langsung menghardik Khidhir, “berapa zalimnya engkau! Apa kesalahan anak ini sehingga ia engkau bunuh dengan kejam ?” melihat kegusaran Musa, Khidhir hanya tersenyum, Lalu ia berkata, “Bukankah sudah kukatakan padamu, bahwa engkau tidak akan sanggup mengikutiku tanpa boleh bertanya atas apa yang aku lakukan?” Musa sekali lagi sadar akan janjinya, dan bermohon agar ia tetap dibolehkan mengikutinya. Merekapun lalu melanjutkan perjalanan.
Di sebuah desa, karena kelaparan mereka meminta sesuap nasi. Tetapi penduduk desa itu tidak ada yang peduli. Dengan perut keroncongan, mereka berjalan terun sampai akhirnya menemukan sebuah dinding yang hamper roboh. Khidhir pun segera memperbaikinya. Musa yang rupanya masih dongkol dengan sikap penduduk desa yang pelit itu, dengan jengkel berkata, “meu-maunya kau lakukan ini. Bukankah mereka tidak peduli dengan perut kita yang keroncongan?”
Kali ini Khidhir pun segera menjawab, “Rupanya inilah saatnya kita harus berpisah. Engkau telah tiga kali gagal menepati janjimu, yaitu untuk tidak bertanya atas apapun yang aku lakukan. Namun sebelum kita berpisah, akan kuterangkan kepadamu maksud di balik semua tindakanku ini. Aku merusak perahu yang kita tumpangi dahulu, karena raja di tempat kita berlabuh itu sangat senang dengan perahu yang indah-indah. Bila perahu itu tidak kubuat cacat, niscaya raja yang zalim itu akan merampasnya. Adapun anak kecil tampan yang aku bunuh itu, bapaknya adalah seorang ahli ibadah. Tetapi ia mempunyai rasa saying yang sangat berlebihan kepada anakt itu, sehingga hal ini akan dapat merusak pengabdiannya kepada Allah. Terakhir mengenai dinding ini. Dibawah dinding ini tersimpan harta warisan seorang saleh untuk anaknya yang masih kecil-kecil. Kalau dinding ini sampai roboh, maka harta itu akan ditemukan oleh orang lain. Allah menghendaki anak-anak yatim itu suatu saat kelak akan menemukan harta warisah dari ayah mereka itu. Wahai Musa, mudah-mudahn sekarang engkau paham, bahwa semua yang kulakukan ini kebaikan semata.”
Mendengar penjelasan Khidir ini, Musa pun terdiam. Ia yang selama ini selalu merasa paling benar, akhirnya mengakui bahwa ada tangan Allah yang tidak dapat dilihat secara kesat mata, mengatur semua peristiwa di dunia ini agar selalu berjalan dengan harmonis.
Betapa sering kita, seperti halnya Musa, protes kala merasakan ke tidak – adilan. Kita menjadi masygul mana kala kesedihan dan kesulitan menimpa kita, dan terperangah bahagia kala tiba-tiba mereaih kesenangan dan keuntungan. Padahal sebagaimana yang diajarkan Khidir, apa yang nampak oleh mata kita, bisa saja bermakna sebaliknya, kehidupan ibarat samudra Ilahi yang sangat luas dan dalam. Terkadang akal saja tak cukup. Perlu mata hati untuk menembusnya. Bahkan seorang Musa pun, yang pernah berdialog langsung dengan Allah, perlu belajar dari seorang bijak untuk mengasah mata hatinya guna menyelami kedalaman samudera Ilahi tadi. Ada baiknya kita renungkan nasihat bijak yang diberikan oleh seorang ahli hikmah, “Cukuplah kita pasrahkan hidup ini kepada kehendak Tuhan, sambil berupaya semaksimal mungkin yang dapat kita lakukan.”

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar