Bangkrut!

18.23.00

Bangkrut ? adalah suatu hal yang sering kita dengar atau kita alami ketika orang yang sedang usaha bahkan kita sendiri, ketika kita menghadapi kerugian yang amat lebih besar dari jumlah modal yang kita keluarkan untuk usaha sehingga kita akan mendapatkan nilai min dari usaha yang kita kerjakan. Tapi apakah itu adalah bangkrut sebenarnya?
Allah berfirman dalam Al Qur’an pada surat Al Qiyamah ayat 36, yang artinya :

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?”

Dan pada surat Thaha ayat 15 :

“Sesungguhnya hari kiamat akan datang (dan) Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa yang diusahakannya.”

Suatu ketika Rasulullah S.A.W. bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” salah seorang sahabat menjawab, “Bagi kami orang yang bangkrut itu, adalah orang yang
kehilangan harta dan seluruh miliknya.” Kata Rasulullah, “Bukan, orang yang bangkrut itu ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala dari seluruh amal salehnya, seperti dari puasanya, zakatnya, hajinya, ataupun wakafnya; tetapi ketika pahala-pahala itu akan ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu,’Ya Allah, dahulu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu, pahal aku tidak pernah melakukannya,’ Kemudian Allah menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya. Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu,’Ya Allah, ia pernah mengambil hakku dengan sewenang-wanang.’ Lalu Allah menyuruhnya lagi membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu. Setelah itu datang lagi orang yang mengadu; samapai akhirnya seluruh pahala shalat, haji danpuasanya itu, habis dipakai untuk di membayar orang-orang yang pernah haknya ia rampas, yang pernah ia sakiti hatinya, ataupun yang pernah ia tuduh tanpa alas an yang benar.
Kini tidak ada lagi pahalanya yang tersisa, semuanya telah habis dipakai membayar hutang atas kelakuan zalimnya pada waktu ia hidup di dunia. Sementara itu, ternyata orang yang mengadu masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya pada orang itu di dunia dahulu. Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudara-saudaranya.”
Kisah ini member pelajaran pada kita, bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar. Semua bentuk kezaliman yang kita lakukan, harus kita bayar tunai dengan pahala yang kita miliki di akhirat nanti. Itulah mungkin sebabnya Al Qur’an dalam surat An Nisaa’ ayat 111 mengatakan,
“Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemudharatan) dirinya sendiri.”
Atau dalam surat Al Israa’ ayat 7,

“Jika kamu berbuat baik, berarti berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”

Salah seorang sahabat Rasulullah yang terkemuka, yaitu Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, 

“Hidup ini adalah suatu bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalu manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, kemudian alam dunia, lalu masuk ke dalam alam kubur, dan terakhir menetap abadi di alam akhirat. Orang yang bijak, akan menabung bekal sebanyak-banyaknya agar di akhir perjalanan nanti ia dapat bersenang-senang. Ia mengerti benar, bahwa tempat bersenang-sengang itu bukan di perjalanan, tetapi nanti bila sampai di tempat tujuan. Orang bijak, tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekal-bekalnya pada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot-repot diganduli oleh perbekalannya.”

Ketika para sahabat yang lain bertanya pada Sayidina Ali, “Wahai Alai, bagaimana caranya menitipkan bekal kepada orang lain itu ?”
Sayidina Ali pun menjawab, “Ketahuilah, bahwa tidak ada hutang yang tidak dibayar. Bila seseorang menyakiti hatimu, maka ia harus membayarnya nanti dengan pahalanya. Begitu juga bila seseorang memfitnahmu, maka ia harus bayar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya. Atau, bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayar hutangnya itu, kelak ia harus membayarnya dengan pahalanya. Pololnya, kezaliman orang terhadapmu, pada hakikatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah caranya menitipkan bekal kita pada orang lain.”
Nah… dari kisah tersebut, sekarang kita ketahui kalau bangkrut sebenarnya adalah kebangkrutan saat kita berada di akhirat nanti…
Sekian, mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua. Amiin…
Salam Penulis

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
First
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar