1. Permulaan Penciptaan, Kisah Adam As.

22.20.00

Segala sesuatu yang kita lihat sekarang ini, dahulunya belumlah ada, dahulu tidak ada manusia dan binatang, tidak ada tumbuh-tumbuhan, tidak ada bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang.

Dengan Iradat dan Kudratnya, Allah lalu menciptakan segala apa yang ada,, sebagaimana kita lihat sekarang ini. Diciptakan Allah langit dan bumi dan apa-apa yang terdapat antara keduanya didalam waktu 6 hari. Hari yang bukan berarti siang dan malam seperti yang lazim kita pergunakan sekarang ini, tetapi hari yang berarti proses pertumbuhan atau masa yang lamanya mungkin beribu-ribu atau berjuta-juta tahun.

Bila Allah berkehendak akan mengadakkan atau mencipkan sesuatu, Allah hanya mengucapkan satu perkataan yang bersifat perintah, yaitu “Kun” yang artinya “Jadilah”. Dengan mengucapkan kata “Kun” itu, maka tercipta dan terjadilah apa yang dikehendaki Allah.

Dengan cara begitu, maka tercipta dan terjadilah Bumi dengan lautan dan daratannya, bergunung-gunung dan berjurang-jurang, lengkap dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatangnya. Terciptalah matahari dengan cahaya dan sinarnya yang terang-benderang, bulan dan bintang-bintang dengan cahaya berkilauan. Semuanya beredar di angkasa raya dengan peredaran yang teratur, menurut sunnah (penetapan) Illahi yang menciptakan dan mengaturnya, bersimpang-siur berkejar-kejaran.

Kemudian dicitakan Allah pula Malaikat-Malaikat yang selalu patuh menjalankan segala perintah Allah yang menciptakannya, mengerjakan ibadah dan tugasnya masing-masing yang sudah ditentukan Allah bagi mereka. Di antara mereka ada yang menjadi penjaga Bumi, penjaga Langit, menurunkan hujan dan ada pula yang menjadi makhluk pesuruh Allah, sebagai perantara antara Allah dengan makhluk-makhluk-Nya. Dalam menjalankan berbagai tugas itu, mereka selalu bertasbih mensucikan Allah.

Kemudian diciptakan Allah pula Adam sebagai Manusia yang Pertama, untuk menempati Bumi yang sudah terbentang luas, beranak dan berketurunan menjadi manusia yang banyak, bergolong-golongan dan berbangsa-bangsa, berserak ke seluruh pelosok Bumi.

Maksudnya manusia itu diciptakan Allah, ialah agar manusia itu menyembah dan mesucikan Allah, lalu menjadi pengatur Bumi yang tidak teratur dengan bercocok tanam, memelihara binatang, mendirikan rumah-rumah, jalan-jalanan dan sebagainya.

Allah memberitahukan kehendak-Nya ini kepada semua Malaikat : 
“Aku hendak menciptakan manusia untuk menjadi Pengatur di muka Bumi itu”
Para Malaikat lalu menjawab : 
“Apakah manusia yang Engkau ciptakan untuk mengatur Bumi, ya Tuhan kami ? Tidakkah manusia itu nantinya akan merusak bumi dan menumpahkan dara berbunuh-bunuhan ? Kiranya kami selalu patuh dan mensucikan akan Engkau !”

Terhadap saran Malaikat itu Allah lalu berfirman : 
“Aku lebih tahu akan apa yang kamu tidak mengetahuinya” 
Ya Tuhanlah yang lebih tahu rahasia apa yang terkandung dari kejadian manusia ini. Tuhanlah yang lebih tahu kenapa kita manusia yang diciptakan Tuhan untuk mengatur Bumi, sekalipun Allah tentu sudah tahu pula, bahwa manusia dipermukaan Bumi ini akan berbuat kerusakan, akan bersilang-sengketa, akan berbunuh-bunuhan menumpahkan darah.

Tetapi janganlah sampai kita lupakan, bahwa Allah juga tahu, bahwa tidak semuanya manusia itu perusak, tidak semua manusia suka bersengketa dan berbunuh-bunuhan menumpahkan darah. Diantara manusia yang banyak itu, ada banyak pula yang baik, yang selalu berbuat kebajikan terhadap sesame manusia, demikian pula berusaha untuk berjuang bagi keselamatan dan kebahagian hidup manusia. Setelah mendengan jawaban Allah yang pendek, tetapi mempunyai arti dan maksud yang amat dalam itu, semua Malaikat menjadi bungkam, tidak menjawab lagi. Hanya berkata dengan berbisikan di antara sesama mereka :
“Memang benar. Tuhan kita Maha Mengetahui segala sesuatu, dari perkara yang sekecil-kecilnya sampai kepada perkara yang sebesar-besarnya. Ia mengetahui segala yang dhohir dan yang batin, yang kelihatan oleh mata dan yang tidak kelihatan. Tidak ada satu perkara dan kejadian yang bagaimana juga kecilnya yang terjadi dilangit dan di bumi atau antara keduanya yang tidak diketahui Allah”
“Apa saja yang Allah ciptakan dan perbuat, tentu ada guna dan faedahnya, tentu ada maksud dan tujuannya. Tidak ada satu bendapun yang diciptakan Allah akan sia-sia. Hanya kita sendiri yang tidak atau belum mengetahuinya”.
Allah meneruskan firman-Nya terhadap para Malaikat itu : 
“Manusia itu, yaitu Adam, akan Aku ciptakan dari tanah. Apabila sudah terbentuk dan selesai, akan Aku hembuskan kepadanya RohKu, agar dia menjadi hidup, dapat bergerak, berperasaan, berpengertian dan berkesadaran. Bila Adam sudah menjadi hidup dengan perngertian dan kesadaran, hendaknya kamu sekalian bersujud memberi hormat kepadanya.”
Malaikat adalah suatu makhluk Allah yang mempunyai kesadaran amat tinggi. Dengan kesadaran yang amat tinggi itu, mereka menjadi makhluk yang mulia, selalu bertasbih dan beribadah mensucikan dan memuji-muji Allah, selalu taat menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka tidak pernah durhaka atau melanggar perintah-perintah Allah, tanpa makan dan minum, tanpa istirahat atau tidur, mereka selalu melaksanakan segala macam tugas yang dibebankan Allah atas mereka masing-masing sampai hari kiamat.

Bersambung pada artikel selanjutnya 6 Kemuliaan Adam As.

Artikel Terkait

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »
Penulisan markup di komentar
  • Untuk menulis huruf bold gunakan <strong></strong> atau <b></b>.
  • Untuk menulis huruf italic gunakan <em></em> atau <i></i>.
  • Untuk menulis huruf underline gunakan <u></u>.
  • Untuk menulis huruf strikethrought gunakan <strike></strike>.
  • Untuk menulis kode HTML gunakan <code></code> atau <pre></pre> atau <pre><code></code></pre>, dan silakan parse kode pada kotak parser di bawah ini.

Disqus
Tambahkan komentar Anda

Tidak ada komentar